Home

Selasa, 23 Oktober 2012

Mengapa Manusia Membutuhkan Barang?



Sesuatu yang luar biasa untuk menemukan bahwa tidak ada yang tau mengapa orang-orang mengiginkan sebuah barang. Hal ini penting untuk diketahui mengapa sebuah permintaan itu kadang-kadang stabil, kadang-kadang juga bisa melambung tinggi sejalan dengan arus kecepatan inflasi, dan kadang-kadang juga terjadi penurunan saat orang-orang memilih untuk menyelamatkan daripada menghabiskan sebuah barang. Para ahli ekonomi pun juga masih berhati-hati untuk menjawab mengenai mengapa orang-orang mengiginkan sebuah barang, mereka bahkan menghitungnya dengan sebuah kebajikan untuk tidak menawarkan saran. Hal ini dapat menjawab pertanyaan tentang respon konsumen terhadap perubahan harga dan pendapatan. Selama selera dapat diberlakukan untuk diberikan, maka sesuatu tersebut sebagai faktor utama yang digunakan untuk menjelaskan segala sesuatu yang lain.
Sebenarnya pertanyaan mengapa orang-orang mengiginkan barang ialah bagaimana seorang konsumen dalam menggunakan jasa dan barang itu dengan cara tersendiri sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya sendiri, akan tetapi, terdapat dua hal yang sekiranya bisa menjadi asumsi untuk kita bahwa tidak dipungkiri untuk kita sebagai manusia secara tidak sadar mempunyai apa yang dinamakan kebutuhan fisik dan spiritual dan “barang” menurut saya merupakan salah satu bagian yang harus dipenuhi untuk salah satu unsur dari memenuhi kebutuhan secara fisik yang bentuknya bisa dikatakan berbentuk material. Sebenarnya tidak ada pembenaran mengenai asumsi tadi bagi para ahli ekonom. Sebuah teori hanya menganggap individu yang akan bertindak secara rasional untuk memilih secara relevan. Para ahli ekonom mengatakan bahwa selera yang harus dipilih merupakan sebagai sebuah sesuatu yang harus diberikan juga, seperti halnya siap dalam menanggapi penurunan harga untuk membeli jumlah yang besar dan sebaliknya. Untuk saat sekarang ini objek-objek konsumsi terlihat semakin otonom dari kondisi-kondisi produksi, kegunaan fungsi, dan makna simbolisnya. Kalau kita perhatikan dari artikel pada bagian pertama ini terlihat barang konsumen dianggap sebagai penanda yang sepenuhnya terpisah dari rombongan yang ditandai, sehingga objek-objek dari sebuah benda itu bebas dari inti nilai yang sebenarnya. Dari situ saya bisa menilai bahwa barang itu diibaratkan sebuah pesan yang ditawarkan, diterima ataupun ditolak sehingga barang itu bisa dikatakan sebagai sebuah penghubung dalam sebuah sistem informasi. Antropologi melihat kondisi ini mungkin dengan sebuah etnografi yang saat sekarang berjasa lebih untuk mengsintesiskan ke satu titik peristiwa dari sekian periode yang sudah dilalui dan periode saat ini juga. Apa pun yang penting tentang masa lalu yang diasumsikan untuk membuat dikenal dan merasa ada saat berada pada masa sekarang. Saat ini ide-ide tentang masa depan juga terlihat hadir. Ini mengasumsikan perspektif atau cara di mana individu memperlakukan masa lalunya sangat selektif sebagai sumber memvalidasi mitos untuk masa depan sebagai lokus mimpi untuk panduan dalam bertindak. Dengan cara etnografi, antropologi menganggap sebuah sistem ekonomi yang tidak berubah. Analisis ekonomi yang menjelaskan bagaimana sumber daya disalurkan sebagai analisis sistem politik dan religious untuk bagaimana sistem ekonomi berkelanjutan dapat dipercaya mengenakan busana untuk memperbandingkan sebuah keadilan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar